BERHASIL MOVEON

by - 03.26

sumber gambar : disini
*cling* hp ku berbunyi.
Aku langsung buru-buru mengecek hpku. Ternyata itu sms dari pacarku. Akhirnya dia menghubungiku juga setelah seharian ini dia sibuk dengan kegiatannya.

“Hai, lagi apa?” sms dia padaku

“Hai juga. Lagi nunggu sms dari kamu. Kamu sendiri lagi apa?” balasku

“Lagi ngerjain tugas nih.” balasnya

“Yaudah dikerjain aja dulu. Aku tungguin kamu sampai tugasmu selesai ya.” balasku

“Tugasku masih banyak. Kamu tidur duluan aja.” balasnya

“Aku belum ngantuk kok. Aku mau temenin kamu ngerjain tugas.” balasku

“Yaudah, terserah kamu aja.” balasnya singkat

            Begitulah isi pesan kami setiap malam. Semenjak dia kuliah, hubungan kami menjadi renggang. Dia sibuk dengan segala macam kegiatan barunya. Berbagai rintangan telah kita lewati bersama. Meskipun dia sibuk, aku selalu mencoba untuk mengerti keadaannya.

*cling* hpku berbunyi lagi

“Aku udah selesai nih ngerjain tugasnya. Tidur yuk!” sms dia padaku

“Yah, kok udah mau tidur sih? Dari tadi aku nungguin kamu ngerjain tugas itu biar bisa smsan sama kamu sebentar sebelum tidur.”  balasku

“Siapa suruh nungguin? Kan tadi aku udah suruh kamu untuk tidur duluan.”  balasnya

Emang aku salah ya kalo nungguin kamu? Aku kan cuma ingin smsan sama kamu. Aku nggak mau hubungan kita jadi renggang karena kita jarang komunikasi.” balasku

“Iya, iya, aku tahu kok. Yaudah sekarang kamu tidur aja. Aku juga udah ngantuk soalnya.” balasnya

“Tidur duluan aja. Aku belum ngantuk.” balasku

Aku mematikan laptop, lalu merapikan meja belajarku. Aku sudah mulai menguap, tapi aku masih belum ingin tidur. Dia tidak membalas smsku lagi. Mungkin dia sudah tertidur.

*cling* hpku berbunyi kembali

“Aku mau ngomong sesuatu.” isi pesannya yang dikirim padaku

“Mau ngomong apa, Yang?” balasku

“Maafin aku sebelumnya. Kayaknya kita harus mengakhiri hubungan ini. Kita jadi teman seperti dulu ya.” balasnya

*jegggeeerrrr*

Terdengar suara gemuruh petir dan cahaya kilat terlintas dari jendela rumahku. Lalu dilanjuti dengan hujan yang deras. Hpku terlepas dari genggamanku dan terpelanting keras ke atas lantai. Air mataku mulai menetes secara perlahan. Badanku menjadi lemas seketika setelah menerima pesan darinya. Dia ingin mengakhiri hubungannya denganku. Hubungan yang telah kita bina bersama selama 2 tahun lebih.

“Apa ini mimpi?” kataku dalam hati

Ku kumpulkan tenagaku untuk meraih kembali hpku yang terjatuh di lantai. Ku baca sekali lagi pesan darinya. Ternyata dia benar-benar ingin mengakhiri hubungannya denganku. Air mataku mulai mengalir semakin deras. Ku kumpulkan nyali untuk membalas pesan darinya.

“Emang kenapa? Kok kamu jahat sih:’(“ smsku padanya

“Aku lagi pengen sendiri dulu. Aku tahu ini berat buat kamu. Tapi, sayang ku ke kamu itu udah berkurang. Udah nggak kayak dulu lagi.” balasnya

“Aku nggak mau menyakiti kamu atau membuat kamu menangis lagi. Aku nggak mau itu terjadi lagi ke kamu. Aku ingin kamu fokus ke masa depanmu dulu. Karena adanya aku yang sering buat kamu jadi sedih takutnya malah menghambat masa depan kamu itu. Maafin aku ya :) Aku juga sebenarnya berat untuk melakukan ini. Tapi, apa daya? Cintaku ke kamu udah nggak kaya dulu lagi. Aku berharap kita masih bisa temenan ya :)” lanjut smsnya

“Emang aku ada salah apa sama kamu? Kok sampai membuat kamu ingin mengakhiri hubungan ini?” balasku

“Kamu nggak ada salah apa-apa kok. Sejak kesini, hubungan kita itu sering berantem. Lebih baik aku akhiri saja daripada aku buat kamu jadi sedih terus. Aku tahu kamu itu sayang sekali sama aku. Tapi, aku nggak bisa jalani hubungan ini dengan benar. Apabila Allah memang menjodohkan kita berdua, Insya Allah kita akan kembali. Maafin aku ya. Kamu boleh kok nggak maafin aku. Aku harap kamu bisa cari pengganti yang lebih baik daripada aku ya.” balasnya

            Aku mulai menghela nafas yang panjang sambil menyeka air mataku yang menetes dengan jari-jari tanganku.

“Yaudah kalo itu mau kamu. Aku bisa terima dengan ikhlas kok. Makasih ya udah ngajarin aku apa itu artinya cinta, gimana rasanya di sayang, apa itu artinya sakit hati dan gimana rasanya di sakiti oleh orang yang kita sayang. Makasih untuk semuanya.” balasku

Lalu aku mulai menghempaskan tubuhku ke atas kasur. Ku peluki erat-erat boneka pemberian darinya.

“Aku masih belum percaya dengan semua ini. Mengapa dia tega mengakhiri hubungan ini?” kesalku dalam hati

            Air mataku terus mengalir dan sedikit demi sedikit mulai membasahi bantalku. Aku pun terlelap dalam tangisku. Keesokan harinya aku terbangun. Ku tatap kaca di kamarku. Terlihat sekali gundukan hitam di bawah dua kelopak mataku. Mungkin ini efek dari menangis semalam. Aku mulai melangkah ke ruang tamu rumahku. Aku pun mulai duduk di kursi. Lalu ku hadapkan badanku ke arah jendela. Langit terlihat mendung pagi ini. Iya, mendung. Sama seperti keadaanku saat ini

            Badanku masih terasa lemah. Aku sangat tak bersemangat untuk pergi kerja hari ini. Ku raih handukku. Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi. Ku nyalakan shower. Lalu aku duduk dan bersandar di bathtub. Air yang keluar dari shower mulai membasahi bagian wajahku seiring dengar air mataku yang ikut mengalir. Aku masih tak percaya orang yang aku sayangi selama ini, pergi meninggalkanku begitu saja.

Sesampainya di kantor, teman-temanku datang menghampiri meja kerjaku.

“Matamu kenapa? Sepertinya terlihat sedikit membengkak.” tanya temanku

“Nggak kenapa-kenapa kok, cuma kurang tidur aja.” balasku

Saat jam makan siang, teman-temanku kembali bertanya padaku.

“Kamu kenapa sih? Kok terlihat murung sekali? Apa kamu lagi sakit? Kalau lagi ada masalah, cerita aja sama kita.” tanya temanku

“Semalam aku putus dengan pacarku, Mbak.” jawabku pelan

“Ya ampun, kok bisa sih? Emangnya ada masalah apa? Siapa yang mutusin? Kamu atau dia?” tanya temannku dengan penasaran

“Aku diputusin, Mbak. Katanya dia udah nggak sayang sama aku lagi.” jawabku

“Udah ah, kamu nggak boleh sedih. Cowok di dunia ini masih banyak kok. Nggak ada untungnya juga kamu nangisin dia, toh belum tentu juga dia bakal nangisin kamu.” ucap temanku

“Iya, Mbak.” jawabku
                                                                                   
            Selama beberapa hari ini aku masih terlihat murung. Aku masih sering mengurung diri di dalam kamar sambil mengingat kenangan-kenangan dulu. Aku lelah berada dalam kesedihan ini. Aku harus bangkit. Aku tak boleh terpuruk dalam kesedihan. Aku mulai menyibukkan diri dengan mengikuti berbagai komunitas. Komunitas menulis salah satunya. Aku merasa nyaman sekali. Aku menemukan banyak teman-teman baru di komunitas itu. Aku pun bercerita pada mereka tentang hubunganku yang baru saja kandas. Lalu, mereka memberi nasihat padaku agar aku segera move on darinya. Aku pun mulai bangkit dan menjalani hari-hari ku seperti biasanya. Terima kasih, kawan karena kalian telah memberikanku banyak masukan. Yang paling ku ingat adalah nasihat temanku yang isinya, “Move on itu bukan tentang membenci, menghina atau melupakan mantan. Tapi, move on itu tentang bagaimana cara kita menyikapi apa yang terjadi hingga mengubah diri kita menjadi pribadi yang baik.”

            Bulan demi bulan telah ku lewati. Kini aku terlihat jauh lebih baik lagi dari kemarin. Aku mulai melupakannya secara perlahan. Ku isi hari-hari baruku dengan kegiatan yang positif agar aku tak teringat lagi dengan masa lalu.

            Saat ku buka lemari bukuku, terlihat sebuah kotak musik yang mulai berdebu. Ku bersihkan kotak musik itu. Lalu, ku buka dengan perlahan. Aku mencari-cari dimana tombol untuk memutarnya.

“Ah, akhirnya ketemu juga tombol pemutarnya.” ujarku

            Ku dengarkan alunan lagu yang indah itu. Aku iseng membuka laci kecil yang ada di kotak musik itu. Terlihat secarik surat. Ku buka surat itu perlahan. Ternyata itu surat dari dia. Iya, dia yang memberikan hadiah kotak musik ini saat kami merayakan hari jadi kami dahulu. Aku mulai menarin nafas panjang. Lalu, ku hembuskan secara perlahan. Aku pun tersenyum melihat sang peri menari di atas alunan kotak musik itu.


“Terima kasih atas kenangan indah yang kamu berikan selama ini. Terima kasih juga karena kamu telah memberikanku banyak pelajaran dan mengajarkanku apa itu cinta. Kini aku sudah bisa mengikhlaskan kepergian dirimu. Dan aku akan bersiap membuka hati untuk yang baru.” kataku sambil menutup kotak musik itu.

You May Also Like

38 komentar

  1. itu cowoknya to the point gitu ya, langsung bilang kalo rasa sayangnya udah berkurang. duh kasian ceweknya :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mungkin menurut cowoknya lebih baik jujur tapi nyakitin daripada boong tapi nyenengin :))

      Hapus
  2. Ini curhatan banget, gak keliatan cerpennya :o
    EYD-nya perhatikeun, Nduk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini lagi belajar bikin cerpen kok, Wi:3
      Hehehe ajarin EYD dong...

      Hapus
  3. Ah kirain ini cerita kamu, sayang kata tempat kerja membuat kepoku berakhir :p
    AKU SIH YES MAS!!! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ini bukan ceritaku kali:p
      Aku sih no, Nas :D

      Hapus
  4. Cerpen based on true story. True banget ini kan kak? Beneran udah move on atau belom nih? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha sok tau banget lo, Dhik...
      Udahlah, udah dari lama kok move on nya:3

      Hapus
  5. weeww.. baca ini gue berasa dejavu banget :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kamu pernah ngalamin juga ya? coba deh tuangin di dalam tulisan, pasti hasilnya bagus :)

      Hapus
  6. pacarannya ama berondong :3 iya jahat cowoknya -_- jangan sampe cowo aku gitu deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya, habis kalo tokoh cowoknya yang lebih tua itu mah udah biasa..
      Iya, semoga aja cowok kamu nggak kaya gitu ya :))

      Hapus
  7. Huahahah ini mah curhatan pribadi.. Cuma buat menutupinya dijadikan cerpen deh... Yakan masssss?? Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan sih yeee. Sok tau banget lo, Cup.. Wakakakakakakak

      Hapus
  8. gue juga lagi berusaha untuk move on, merasa menyesal juga sih gue yang mutusin gue juga yang gagal move on udah berbulan-bulan :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, move on, bro :D
      Masa depan lo masih panjang kok.

      Hapus
  9. semangat! Move on adalah keharusan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi, pokoknya harus segera move on :D

      Hapus
  10. cerpern ala EYD anaknya pakosim juga ya ? heheh..
    eh, BTW cowo itu ada benernya juga sih imas, dia ngelakuin itu demi kebaikan lo (drpd dia memperthkan ssuatu yg sbnrnya menurut gue dia itu msh 60 : 40..60 sayang..40 biasa).gue salut sama lo yg bisa MAGNANIMOUS ke orang yg kyk gitu..., ga memendam benci. emg ya klo cerita ditulis sama diceritain sense nya itu beda bgt :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha dia anak sastra, Mut. Makanya ngerti eyd..
      Hehehe yang tokoh ceweknya itu cuma perumpamaan aja kok, bukan gue beneran ._.

      Hapus
  11. Kata-kata mutusinnya mirip curhatan beberapa bulan yang lalu XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha sok tauuu kamu, Sa...
      Tadinya mau masukin isi curhatan kamu loh:p

      Hapus
  12. Ini cerpen bagus ya, cuma setahu gue move on sulit banget,, bisa ajarin gue?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you, bro :D
      Kalo kita nya emang niat, pasti move on nya bakal terasa lebih mudah kok..

      Hapus
    2. Sekalian mampir ke blog gue hehe

      Hapus
  13. Hahaha. Ini curhat nih ketahuan nih yee. \:D/ *kabuuur*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini bukan curhat tau, Diiiiii..... *tarik - tarik rambut lo*

      Hapus
    2. *lepas rambut gue* *lari lagi*

      Hapus
    3. *tarik - tarik kaos lo* *ikat di tiang llistrik*

      Hapus
  14. ah ini mah curhat. hahaha. curhat dibalut jadi cerpen. kelihatan banget. dari dialog yang terkesan buru-buru, pasti kebawa perasaan pas nulis. ngaku lo, mas. hahaha

    BalasHapus
  15. KIRAIN CERITA KAMUUUU *gak nyante*
    Keep it up, Mas! xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahah untungnya ini bukan ceritaku, Meg...

      Hapus
  16. Mungkin ada terselip curhat di dalamnya.. meski bukan semuanya. *disundul imas*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha emang keliatan banget ya kalo terselip curhat di dalam cerpen ini? Padahal nggak adad curhatnya sama sekali loh...

      Hapus
  17. Waah Saya gak paham nie, pengalaman pribadi beneran atau tidak, tragis banget. Tapi kayaknya Saya kesasar nie di blog para ABG. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe untungnya bukan pengalaman pribadi..
      Ya nggak apa - apalah kan sekalian nostalgia kak...

      Hapus

Tak komentar maka tak sayang. Tak sayang maka tak jadian~