SELAMAT JALAN PUTRI

by - 16.35

putri
Kini aku memasuki sekolah baru setelah aku lulus dari SMP. Aku bersekolah di SMKN 1 Kota Bekasi. Aku memilih jurusan Multimedia. Setelah melalui MOS (Masa Orientasi Siswa) selama tiga hari, akhirnya kini aku bisa merasakan langsung bersekolah disini. Di sekolah yang baru ini, aku mempunyai seorang sahabat yang bernama Putri Surya Andani. Dia biasa disapa dengan sebutan Putri. Dia memilih jurusan Akuntansi. Meskipun kami berbeda jurusan, tetapi kami tetap berteman baik. Hari demi hari kita lalui bersama. Setiap kami ada masalah, kami selalu menceritakan masalah kami masing- masing. Putri adalah sosok wanita yang cantik, baik, agak gemuk dan berkacamata. Dia selalu ceria, meskipun terkadang ia harus menahan rasa ssakit yang ada di dalam tubuhnya. Sejak kecil, ia memiliki penyakit jantung. Meskipun ia sering merasa lemah, tetapi ia tak mau kalah dengan murid lainnya. Ia tetap semangat belajar. Aku kagum sekali dengannya.

            Suatu hari setelah pulang sekolah, ia dan kekasihnya berniat untuk bermain ke rumahku. Kebetulan sekali kekasihnya itu satu kelas dengan kakakku. Sesampainya di rumahku, aku segera menyuguhkan makanan untuk semuanya. Aku hanya menyiapkan makanan seadanya karena saat itu orangtuaku sedang tidak berada di rumah. Setelah selesai makan, kami bermain bersama. Kak Bagus, kekasihnya, bermain dengan kakakku. Sedangkan aku bermain dengannya. Sembari bermain, aku menunjukkan foto-foto Kak Bagus yang ada di laptop milik kakakku. “Imas, editin foto aku sama Kak Bagus dong? Kamu kan jurusan Multimedia, pasti jago dong ngedit fotonya.” ledek Putri. “Ah, biasa aja kok, Put.” balasku sambil tertawa. Tak lama kemudian, handphone milik Putri berbunyi. Ternyata itu telpon dari ayahnya. Karena hari sudah mulai sore, ia disuruh pulang oleh ayahnya.

Kembali lagi mengenai penyakit yang dideritanya. Terkadang jika penyakitnya sedang kambuh, ia terpaksa izin untuk tidak masuk sekolah. Meskipun ia sering tak masuk sekolah, ia tetap menanyakan tugas dan pelajaran yang belum ia mengerti pada teman-temannya. Tak terasa ujian semesteran pun tiba. Aku dan Putri berusaha mengerjakan semua soal-soal yang diujikan. Tibalah saatnya pengambilan rapor hasil belajar kami selama enam bulan kemarin. Aku sangat bersyukur semua nilaiku di atas kkm. Akan tetapi, nilai Putri tak seperti nilaiku. Ada satu pelajaran yang nilainya masih di bawah kkm, yaitu pelajaran olahraga. Ia sering sekali izin saat pelajaran olahraga berlangsung. Aku pun mencoba menghibur dan memberikan semangat padanya. Tepat tanggal 13 Januari 2011, Putri kini genap berusia 16 tahun. Aku tak pernah lupa untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun padanya.

Bulan pun kini berganti. Aku mendapat kabar dari Kak Bagus kalo Putri beberapa hari ini tidak masuk sekolah. Ia sedang dirawat di rumah sakit. Aku kaget saat mendengarnya. Seketika aku langsung meminta pada Allah agar Putri segera diberi kesembuhan. Saat pulang sekolah aku berniat untuk menjengukknya bersama temanku, namun Kak bagus bilang kalau Putri sudah di izinkan pulang kembali ke rumahnya. “Alhamdulillah akhirnya Putri pulang juga dari rumah sakit.” ucapku dalam hati. Setelah pulang dari rumah sakit, ia masih harus berisitirahat di rumahnya. Hari terus berlalu, tetapi Putri tak kunjung masuk sekolah. Aku mulai kepikiran dengannya. “Ah, mungkin Putri masih butuh banyak istirahat, jadi ia belum bisa masuk sekolah seperti biasanya.” ucapku dalam hati sambil menenangkan pikiranku.

15 Februari 2011...
Aku berangkat sekolah bersama kakakku seperti biasanya. Ketika di perjalanan, tiba-tiba perasaanku tidak enak. Aku mendadak jadi kepikiran sama Putri. Sepanjang jalan menuju sekolah, aku terus memanjatkan doa semoga tidak terjadi apa-apa dengan sahabatku. Setelah sampai di sekolah, aku mulai berjalan menuju kelasku. Terlihat dari kejauhan Rani, temanku, mulai menghampiriku. “Mas, ada kabar buruk. Tapi lo janji ya kalo gue kasih tau kabar ini, lo nggak boleh nangis.” ujar Rani. “Emangnya kabar apaan sih, Ran? Iya, iya, gue nggak akan nangis kok.” balasku. Perasaanku makin tidak karuan. “Mas, Putri udah pergi. Dia nggak ada lagi di dunia ini lagi.” seru Rani yang perlahan mulai memelukku. Air mataku mulai membasahi kedua pipiku secara perlahan. Aku mulai menangis dalam pelukan Rani. Aku masih tidak percaya dengan semua ini. “Put, kenapa kamu secepat ini pergi meninggalkan aku?” teriakku dalam hati.

Tangisku semakin pecah ketika aku memasuki kelas. Nunu, temanku, dia juga ikut menangis. Nunu sudah bersahabat dengan Putri sejak SMP. Ku pandangi satu persatu teman-temaku yang mulai menitikkan air matanya secara perlahan. “Apa ini semua mimpi? Kenapa kamu pergi meninggalkan kami secepat itu, Put? Aku masih belum bisa percaya kalo kamu udah nggak ada, Put.” kataku dalam hati. Aku pun mencoba menenangkan diri dengan meminum segelas air putih. Aku terus merenung memikirkan Putri. “Maafkan aku, Put, aku belum sempat menjengukmu ketika kamu berbaring lemah di rumah sakit. Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu di detik-detik terakhir hidupmu.” Sesalku dalam hati. Aku ingin sekali berlari sekencang-kencangnya untuk segera menemui dirimu. Memeluk tubuhmu untuk terakhir kalinya. Namun, apa yang bisa aku lakukan? Sekarang aku hanya bisa menangis dan terdiam di dalam kelas. Bu Susmiati, guru PKN-ku yang sekaligus wali kelasnya tidak mengizinkan aku dan teman-temanku untuk menghadiri pemakamannya. Sebab aku masih ada jam pelajaran. Hanya teman-teman sekelasnya lah yang diizinkan untuk menghadiri pemakamannya.

Sesudah aku pulang sekolah, aku dan teman-temanku berniat pergi ke Tempat Pemakaman Umum Pondok Kelapa. Guruku bilang, daerah sana lagi ada banyak razia. Karena diantara kami ada yang tidak membawa helm, akhirnya kami putuskan untuk pergi ke rumahnya saja. Sesampainya disana, kami segera menghampiri kedua orangtuanya. Kami semua mengucapkan turut berbela sungkawa atas kepergian Putri. Semoga kedua orangtuanya diberikan ketabahan dan dilapangkan dadanya untuk mengikhlaskan kepergian anak semata wayangnya itu. Mamanya mulai menceritakan kejadian-kejadian sebelum ia meninggal. Air mataku mulai luluh lagi. Aku nggak boleh nangis lagi, kasian mama papanya nanti pasti ikutan nangis lagi. Hari semakin sore, aku dan teman-temanku mulai berpamitan. Semoga kamu bahagia ya disana. Tersenyumlah disana, Put. Aku merasa lega, kini dirimu tak perlu lagi merasakan sakit seperti yang kamu rasakan dulu. Kami semua menyayangimu. Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi sahabatku selama ini. Selamat jalan, Putri...

NB : Setiap pertemuan pasti selalu ada perpisahan. Tetapi, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Perpisahan itu adalah awal untuk menuju kehidupan yang lebih baik lagi.

You May Also Like

24 komentar

  1. Selamat jalan putri, semoga engkau tenang di alam nun jauh disana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih ya nas buat doanya :)

      Hapus
  2. Semoga Putri mendapatkan tempat di sisi Allah SWT. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih ya udah mau doain sahabat gue :)

      Hapus
  3. Ini kenapa tiba-tiba posting beginian mas? keinget lagi yak? semoga dia baik-baik di tempatnya sana. Teman dan keluarga terdekatnya lah yang bisa bikin dia jadi baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue lg keinget aja sama dia. Thn ini dia udah 3th pergi, dan sampe sekarang gue belum pernah ziarah ke makamnya:'(

      Aamiin. Makasih ya, udah mau doain sahabat gue :)

      Hapus
    2. Berarti elu sekarang SMA akhir-akhir ya? atau kuliah semester awal?
      Kata gue sih, dateng aja ziarah. Doain dari sana :))

      Hapus
    3. Gue udah lulus dari tahun lalu, tapi tahun ini mau ikut test ptn lagi. Masalahnya gue nggak tahu dia dimakamin di blok apa, soalnya pemakamannya luas banget-_-

      Hapus
    4. Asik kaan anak kulahan. Mau daftar mana emang?

      Hapus
    5. Gue sih pengennya daftar di Biologi IPB. Lo anak IPB kan, Di? Gue mau nanya - nanya soal IPB nih hehehe...

      Hapus
  4. semoga putri tenang di surga sana. btw, gaya penulisan lo emang gini ya? rada baku dan formal gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih ya zega buat doanya :)

      Gue kalo nulis cerita fiksi emang kaya gitu, suka kebawa suasana jadinya baku banget :-|

      Hapus
  5. Kok jadi sedih gini ya. Kebayang kalo ngalamin hal yang sama :'|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe pas ngetik postingan ini aja air mataku netes terus yov._.

      Semoga kamu ga ngalamin kejadian kaya aku ya

      Hapus
  6. ikut terbawa juga. pasti rasanya....ahsudahlah :(

    BalasHapus
  7. duh berasa sedihnya :3
    walaupun dia sudah tiada, ttplah mendoakan dia
    jangan pernah melupakannya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makasih ya liana :)
      Aku ga akan pernah lupa buat doain dia kok

      Hapus
  8. Bacanya sedih banget :'( Semoga Putri tenang dan ditempat disisi terbaik Allah ya :') Aminn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pas ngetik cerita ini aja aku sambil nangis:( Aamiin, makasih ya rizka udah mau doain temenku :)

      Hapus
  9. Sedih kak gue bacanya. Air mata gue aja sampe ikutan ngeluar air mata juga :'(

    Btw, tulisan lo baku banget kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha gimana bisa air mata ngeluarin air mata?
      Ini cerpen pertama gue pas kelas 10 dulu, jadi masih kaku banget. Btw, thanks ya buat kritikannya.

      Hapus

Tak komentar maka tak sayang. Tak sayang maka tak jadian~