AKU DAN KISAH KELAMKU

by - 13.33

sumber gambar : disini

Tik.. tik.. tik..
Hujan mulai turun membasahi bumi ini. Aku berlari-lari mencari tempat untuk berteduh. Akhirnya aku menemukan sebuah gubuk tua. Lumayanlah kalau untuk berteduh malam ini. Bajuku sudah basah kuyup. Dingin sekali rasanya. Aku mulai mencari kardus untuk menghangatkan tubuhku. Aku cari ke sela-sela sudut. Aku temukan setumpuk kardus yang nampaknya sudah tak terpakai. Lalu, aku mulai menggelar kardus untuk tempat tidur. Kardus lainnya aku gunakan untuk menjadi selimut. Aku benci sekali dengan hujan. Aku benci karena hujan mengingatkanku pada masa lalu ku yang kelam.

Aku mulai merebahkan tubuhku di atas tumpukan kardus. Badanku terasa menggigil sekali. Tak ada lagi selimut lembut yang bisa gunakan. Tak ada lagi coklat panas yang bisa aku minum di kala aku kedinginan. Semuanya sudah tak ada lagi. Yang ada kini hanyalah kardus dan air mata. Aku kembali teringat dengan kejadian itu lagi. Kejadian dimana Bapakku pergi meninggalkan kami sekeluarga. Bapakku yang kasar dan selalu membentak Ibuku. Aku benci sekali dengan Bapakku.
***
Waktu itu, saat malam semakin larut, Bapakku belum pulang dari kantornya. Ibuku terlihat khawatir sekali. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali ia membuka gorden untuk mengecek apakah Bapakku sudah sampai di rumah atau belum. Ibuku sedih sekali nampaknya.

“Bu, lebih baik ibu istirahat sekarang. Biar aku saja yang menunggu Bapak pulang.” Kataku pada Ibu

“Tak apa nak, biar Ibu saja yang menunggu sampai Bapakmu pulang. Kamu istirahat saja sekarang. Ibu tidak apa-apa kok menunggu sendirian.” Balas Ibu

“Tapi, Bu... Ibu terlihat lelah sekali sepertinya. Aku tak mau Ibu sakit.” Balasku

“Ibu baik - baik saja kok, Nak. Sekarang lebih baik kamu bergegas ke kamar lalu segera tidur. Ini sudah larut malam sekali.” Balas Ibu

“Baik, Bu.” Jawabku pelan

Aku beranjak ke kamar dan bergegas tidur. Ku tarik selimut lembutku. Ku peluk guling kesayanganku. Ku nyalakan lampu tidurku. Lalu ku ucapkan doa dalam hati.

“Ya Allah, engkau yang maha tahu dimana keberadaan Bapakku saat ini, aku mohon lindungi dia. Lindungi dia dari semua mara bahaya yang ada di luar sana. Semoga Bapakku cepat pulang ke rumah agar Ibuku tak cemas lagi dengan dirinya. Amin.” Ucapku dalam hati. Lalu aku pun terlelap dalam hening malam.

DUARRR......
Aku terbangun karena mendengar suara petir yang cukup keras dan dibarengi dengan cahaya kilat yang menembus jendela kamarku. Lalu hujanpun turun dengan deras. Aku takut sekali dengan suara petir itu. Aku segera berlari mencari Ibu.

“Bu, Ibu dimana? Aku takut, Bu...” kataku sambil mencari-cari ibu

BRAKK…
Aku mendengar ada orang yang mendobrak pintu rumahku. Aku bergegas menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang mendobrak pintu rumahku di tengah malam seperti ini.

            Aku mengintip dari ruang makan. Ku lihat Ibuku terlelap di sofa yang berada di ruang tamu. Orang itu terus menerus menendang pintu rumahku. Ibu pun kaget dan terbangun dari tidurnya.

“Heh, cepat buka pintunya. Ada orang tidak sih di dalam?” teriak orang itu dari teras rumahku.

“Iya, sebentar.” Jawab ibu

Ibu segera beranjak dari sofa untuk membukakan pintu. Ternyata itu adalah Bapakku. Dia baru saja pulang dari kantornya. Ku lihat Bapak memarahi Ibu karena Ibu lama membukakan pintu.

“Kamu kemana aja sih? Dari tadi aku sudah mengetuk pintu berulang-ulang tapi tidak ada yang membukakannya.” Kata Bapak sambil membentak Ibu

“Maaf, Pak. Tadi aku tertidur. Bapak dari mana saja kok baru pulang jam segini?” tanya Ibu

“Kamu itu mau tahu saja sih urusan orang.” Balas Bapak

“Aku ini kan istrimu, Pak. Aku sangat khawatir dengan keadaanmu.” Kata Ibu sambil membawakan tas Bapak.

“Aku ini sudah besar. Kamu tak usah terlalu menghawatirkan ku. Aku bisa jaga diri kok.” Balas Bapak

            Ibu membawakan tas Bapak ke kamar. Lalu ia kembali dengan membawa handuk dan segelas teh panas.

“Pakai handuk ini untuk mengeringkan rambutmu, Pak. Segera minum teh nya agar kamu tidak kedinginan.” kata Ibu sambil menghidangkan teh panas di meja makan.

            Huh, begitulah sifat Bapakku. Keras, kasar, dan suka membentak pada Ibu. Aku mulai bergegas kembali ke tempat tidurku.

***

Keesokan harinya...

“Bu, mana sarapan nya? Aku sudah harus buru-buru ke kantor nih.” Teriak Bapak dengan lantang

“Iya, sabar. Sebentar lagi matang kok, Pak.” Jawab Ibu sambil membawakan sepiring nasi goreng dan teh hangat ke meja makan

Lalu Bapak makan dengan lahap. Ibu pun ikut duduk di meja makan bersama Bapak.

“Pak, aku mau tanya boleh?” tanya Ibu

“Kamu mau tanya apa? Tidak lihat apa aku ini sedang makan?” jawab Bapak

“Iya, iya, Pak. Semalam saat membereskan tasmu, ku lihat ada lipstik dan parfum wanita. Itu milik siapa ya, Pak?” Tanya Ibu

“Kamu berani-berani nya ya membuka isi tasku. Kamu tak perlu tahu itu punya siapa.” Balas Bapak sambil memukul meja makan

“Aku hanya ingin tahu itu milik siapa, Pak. Aku juga lihat di kemejamu ada bekas kecupan bibir seorang wanita. Itu kecupan siapa, Pak? Tanya Ibu lagi

“Kamu ini kurang ajar sekali jadi orang! Pertama, kamu sudah berani membuka tasku. Sekarang kamu memfitnah aku dengan hal konyol seperti itu.” bentak Bapak pada Ibu

“Bapak tidak selingkuh kan, Pak?” jawab ibu

Namun, Bapak hanya diam. Ia tak menjawab pertanyaan Ibu

“Jawab, Pak. Jawab pertanyaanku.” Tanya Ibu sambil menggoyang-goyang lengan Bapak

“Dasar wanita nggak tahu di untung. Aku sudah bersusah payah mencari uang, tapi kamu malah seenaknya saja memfitnahku seperti itu.” bentak Bapak sambil menampar pipi Ibu

Aku terbangun karena mendengar suara ribut-ribut. Aku segera bergegas merapikan tempat tidurku. Aku mengintip dari kamarku. Ku lihat Bapak sedang memarahi Ibu. Air mataku mulai menetes melihat Ibu ditampar oleh Bapak. Aku pun berlari mendekati Ibu sambil berkata,

“Sudah, sudah, Pak. Jangan sakiti Ibu terus. Ibu memang salah apa sih sama Bapak?” tanyaku pada Bapak

“Heh, kamu anak kecil, ngapain kamu ikut campur urusan Bapak dan Ibu. Masuk sana ke dalam kamar.” Bentak Bapak

“Aku tak akan masuk kamar sebelum Bapak berhenti menyakiti Ibu seperti ini.” jawabku lantang

“Nggak Ibu, nggak anak, semuanya sama-sama kurang ajar ya. Lebih baik Bapak pergi saja dari sini.” Bentak Bapak kembali

Bapak bergegas ke kamar, lalu membereskan baju-bajunya ke dalam koper. Ku lihat air mata Ibu masih saja menetes. Aku memeluk Ibu dengan erat lalu ku coba untuk menenangkannya.

BRAKK...
Bapak keluar kamar sambil membanting pintu dengan keras.

“Kamu mau kemana, Pak?” Tanya Ibu sambil memegang tangan Bapak

“Aku mau kemana saja pun itu bukan menjadi urusanmu.” Bentak Bapak

“Pak, jangan pergi. Jangan tinggalkan kami, Pak.” Mohon Ibu pada Bapak sambil berusaha menghapus air matanya

“Aku sudah tidak betah lagi di rumah ini. Sejak awal pernikahan, dirimu selalu menaruh rasa curiga padaku.” Jawab Bapak

“Tapi, Pak, semuanya itu kan masih bisa diperbaiki lagi.” balas Ibu

“Semuanya sudah terjadi. Tak ada lagi yang perlu diperbaiki.” Jawab Bapak

“Tapi, Pak...” kata Ibu sambil memegang tangan Bapak

“Tapi apalagi? Urus saja urusanmu sendiri.” Bentak Bapak sambil mendorong Ibu hingga terjatuh ke lantai

Aku langsung berlari menghampiri Ibuku.

“Sudahlah, Bu. Biarkan saja Bapak pergi. Orang seperti dia itu tak pantas disebut Bapak” seru ku seraya memeluk Ibu

Aku membawa Ibu ke dalam kamar untuk beristirahat. Ia sudah lelah sekali kelihatannya. Wajahnya terlihat pucat dan penuh air mata. Ku buatkan teh hangat untuk Ibu. Lalu ku biarkan Ibu istirahat.

Tok.. tok.. tok..
Pintu rumahku kembali diketuk.

“Siapa lagi sih? Apa jangan-jangan itu Bapak? Mau apa dia datang kembali lagi?” ucapku dalam hati

Ku buka pintu rumahku. Terlihat dua orang laki-laki yang berbadan besar dan berkacamata hitam.

“Maaf, Bapak ingin mencari siapa ya?” tanyaku

“Mana Bapakmu?” tanya orang itu

“Bapakku sudah pergi dari tadi dan sepertinya tak akan kembali lagi. Memangnya ada apa, Pak? Tanyaku lagi

“Bapakmu itu 3 bulan yang lalu meminjam uang pada bos kami. Dia bilang mau melunasinya minggu lalu. Tapi, sampai sekarang dia tidak belum bayar juga.” Jawab orang itu

“Pinjam uang? Buat apa Bapakku meminjam uang pada bos kalian?” tanyaku sambil merasa heran

“Bapakmu bilang pinjam uang untuk membangun rumah dan biaya belanja istrinya.” Jawab orang itu

“Istri? Ibuku sudah lama tak pernah menerima uang sepeser pun dari Bapakku.” Terangku pada orang itu

“Saya tidak peduli istri mana yang Bapakmu maksud. Saya mau rumah ini segera dikosongkan nanti malam. Rumah ini kami sita karena Bapakmu tidak sanggup membayar semua hutang-hutang nya.” Kata orang itu sambil bergegas pergi


Bagaimanakah nasib si Anak itu dan Ibunya? Akankah mereka mau menyerahkan rumahnya pada debt collector? Tunggu cerita selanjutnya ya...

You May Also Like

13 komentar

  1. Tegang ih baca ceritanya hahaha geregetan sama bapaknya, pengen di kebirii sama orang satu kampung dia -_-

    BalasHapus
  2. Yah bersambung.

    Keren ceritanya, jadi kebayang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks, Bro :))
      Ini lagi dilanjutin kok cerita selanjutnya..

      Hapus
  3. Balasan
    1. Hehehe ini lagi dibuat kok. Sabat ya :))

      Hapus
  4. Ditunggu lanjutannyaaa yaaa... :D

    BalasHapus
  5. Duh, kalo baca cerita soal utang-piutang keluarga gini berasa gimana gitu. Kasian ya kalo banyak di kehidupan nyata terjadi hal semacam ini :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kasian banget. Tetanggaku malah pernah ngalaminnya sendiri. Mereka mendadak jadi miskin karena bapaknya:(

      Hapus
  6. aduh, curhat aku banget. bedanya ngga ada utang piutang dan bapakku pergi hhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seriusan bapakkmu kaya gitu? Duh, maaf ya kalo ceritaku ngingetin kamu sama bapakmu._.

      Hapus
  7. ceritanya mengharukan juga ya, kok bapaknya begitu tega sama istri dan anaknya..

    BalasHapus

Tak komentar maka tak sayang. Tak sayang maka tak jadian~