Say Goodbye 2014

by - 13.36

sumber : disini

Tik.. tok.. tik.. tok..

            Jam dinding di kamar gue terus berdetak. Tiap detik, menit, dan jamnya selalu ada kenangan yang tercipta. Tak terasa kini kalender tahun ini sudah berada di posisi Januari 2015. Banyak sekali moment-moment yang terjadi selama satu tahun ke belakang. Baik, buruk, suka dan duka telah berhasil gue lewati. Kali ini gue akan merangkum semua peristiwa-peristiwa yang terjadi selama setahun kemarin…

Januari 2014
Di awal pergantian tahun dari 2013 ke 2014 ini memang cukup berbeda dari dua tahun sebelumnya. Mengapa berbeda? Karena selama dua tahun kemarin gue selalu menghabiskan malam tahun baru bersama dengan “someone”. Tahun ini gue membuka lembaran baru dengan status single (alias jomblo). Cukup banyak kenangan pahit yang tertorehkan di akhir tahun 2013 kemarin.

Di bulan ini banyak banget sweet moment yang terjadi. Pertama, gue berhasil memberikan surprise kecil-kecilan di hari ulang tahun Kakak, Bokap, dan Nyokap gue yang semuanya jatuh tepat di bulan Januari ini. Kedua, tahun kemarin gue sempat menunda program kuliah gue. Sebelum mengikuti tes, gue memilih untuk mengikuti bimbingan belajar di Zenius Education. Tahun ini gue memutuskan untuk mengikuti tes memperebutkan bangku di PTN. Ya keleus, Cil, cuma bangku aja pake direbutin segala lo. Tinggal bawa dari rumah aja, sih. Terus taruh bangkunya di kampus dan jurusan yang lo pengen-____-

Ketiga, gue ikut merayakan hari ulang tahun “Jamban Blogger” yang pertama. Dimana komunitas ini mempertemukan gue dengan banyak orang-orang hebat yang belum pernah gue temui sebelumnya disini. Dan yang terakhir, di bulan ini gue memulai perjalanan gue menjadi seorang secret admirer. Gegayaan amat yee si Bocil pake sok-sok an jadi pengagum rahasia segala. Habis mau gimana lagi, enakan dipendam sendiri sih daripada dinyatain ._.

Februari – Maret – April – Mei 2014
Selama 4 bulan ini, kehidupan gue berjalan seperti biasa. Gue jarang pergi kemana-mana soalnya mau fokus untuk mempersiapkan banyak tes di bulan Juni dan Juli nanti. Gue pun makin akrab dengan teman-teman les gue yang lain. Btw, selama 4 bulan ini gue tetep kekeuh buat jadi secret admirer-nya si Abang Cilok. Nge-stalking udah jadi kegiatan yang rutin gue lakuin setiaphari. Ngeliat si Abang nge-tweet sambil jualin Cilok aja, Neng udah seneng. Apalagi kalo bisa ngobrol bareng Abang? Duh, Neng nggak kuat. Bunuh aja Neng di rawa-rawa, Bang:(

Juni 2014
Di bulan ini gue benar-benar disibukkan oleh tes di sana-sini. Di tanggal 17, ada tes SBMPTN. Setelah berperang dengan berbagai macam soal kemarin, keesokan harinya gue mau menenangkan otak gue sejenak untuk berjalan-jalan. Jalan-jalan kali ini sekaligus farewell party dengan teman-teman les gue. Selama 6 bulan lebih kita les, baru kali ini benar-benar ngerasa sedih karena harus berpisah dengan mereka semua:( Ada yang harus balik ke Makassar dan Cianjur, ada yang tetap di Jakarta, sedangkan gue dan dua teman gue lainnya harus segera pergi ke Yogyakarta untuk mengikuti tes UM disana.

Kepergian gue ke Yogya kali ini nggak hanya untuk tes saja, melainkan untuk bertemu dengan keluarga besarnya Nyokap. Kangen banget udah 4 tahun lebih nggak pulang kesini. Setelah selesai tes, gue diajak keliling sama teman les gue, Falia namanya. Mumpung lagi disini, gue nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Jamban Blogger Regional Yogyakarta. Alhamdulillah banget akhirnya resolusi gue tahun ini untuk bertemu anak-anak JB diluar Jabodetabek terwujud. Gue ketemu sama Asma dan Nofi disini. Aakkk seneng banget. Lalu, gue juga nggak sengaja bertemu dengan Dewa, teman lama gue saat masih duduk di bangku SD dulu. Udah 10 tahun lebih nggak ketemu, eh, nggak nyangka bisa ketemu lagi. Berasa lagi jadi Cinta sama Rangga nih jadinya wkwkwk.

Juli 2014
Bulan ini adalah bulan yang paling bikin khawatir soalnya di bulan ini pengumuman tes kemarin bakal segera keluar. Gue sudah berikhtiar pagi, siang, sore, dan malam. Sampai punya nazar segala kalau keterima di PTN. Tapi, nyatanya apa? Allah berkehendak lain. Gue gagal dapetin jurusan Ilmu Komunikasi di PTN yang gue inginkan. Sedih? Pasti. Tapi, gue harus bangkit. Keesokannya gue ikut UM lagi. Untungnya lokasi tesnya di Bekasi. Jadi gue nggak usah jauh-jauh ke Semarang. Setelah selesai tes UM, gue diundang untuk datang ke acara bukber sama teman-teman sewaktu SMP. Acaranya rame dan seru banget soalnya kita udah lama banget nggak ketemu. Badannya pada gede-gede, kayaknya gue doang yang dari dulu segini-segini aja:(

Keesokan harinya gue diundang buat bukber bareng teman-teman sewaktu SMK dulu. Kali ini nggak bisa semuanya dateng, soalnya ada yang udah mudik, ada juga yang udah punya acara bukber di tempat lain. Bulan ini biasanya gue selalu dapat kejutan dari si someone. Bukan karena gue ultah atau apa. Tapi, dua tahun lalu ada yang menyatakan cintanya. Seharusnya bulan ini kita tepat 3tahun loh. Hih, apaan sih gue jadi kebawa suasana gini. Move on kek elah, Cilllllll -_-

Agustus 2014
Bulan ini adalah bulan yang bener-bener bikin gue nge-down. Gue sudah lelah mengikuti berbagai macam tes untuk bisa kuliah di PTN. Awalnya, gue nggak mau ikut tes lagi, tapi kakak gue selalu men-support­ gue untuk ikut tes lagi. Tapi, dengan satu syarat, gue mesti banting stir. Nggak boleh lagi milih jurusan seperti pas awal-awal lagi. Kakak gue percaya, gue akan lolos di jurusan yang dia pilihkan untuk gue. Dengan semangat yang hampir pupus, gue nyoba tes UM untuk PTN yang berada di Jakarta dan Purwokerto. Gue berharap semoga bulan ini bisa dapat kabar baik sebagai hadiah di hari kelahiran gue nanti.

            Jeng.. jeng… jeng…. Hari yang gue tunggu-tunggu dari hari-hari lainnya telah datang. Yakni, hari kelahiran gue. Tapi, gue ngerasa kurang bersemangat banget dalam menyambut bertambahnya umur gue ini. Maklum lah, kemarin sempet setres gara-gara gagal dapetin jurusan yang gue mau di PTN. Gue pikir tahun ini bakalan nggak ada yang spesial. Eh, tahunya ada aja yang ngasih kejutan dan bikin gue jadi mesem-mesem disini. Mulai dari diceplokin, dibuatin stop-motion, sampai dengan dapat kado yang isinya Komik Tuti. Omg, komiknya lucu anettt. Mamaci banget deh pokoknya buat Aa Klimis yang udah ngadoin gue ini:3

            Tapi, kebahagiaan itu hanya sementara. Seminggu kemudian, gue dapet kabar buruk lagi. Lagi, lagi, dan lagi-lagi gue gagal. Hilang sudah kesempatan gue untuk bisa kuliah di PTN. Mungkin Allah tahu passion, minat dan bakat gue bukan berada disana. Gue nggak boleh terpuruk, gue harus bangkit. Gue nggak mau menunda kuliah lagi. Mau nggak mau gue harus kuliah di PTS. Gue nggak lagi milih jurusan Ilmu Komunikasi. Percuma juga kalau gue milih itu lagi, toh Nyokap gue nggak akan pernah setuju dan ngasih restu kalau anak perempuan kesayangnya ini menjadi seorang jurnalis yang diharuskan bekerja ekstra. Nggak peduli pagi, siang, sore, ataupun tengah malam sekalipun.

Gue pun beralih ke planning kedua gue, yakni menjadi seorang guru. Guru SD lebih tepatnya. Gue memilih jurusan ini karena dibalik cita-cita gue yang dari dulu selalu ingin jadi Astronaut dan Journalist, jauh di dalam lubuk hati gue tersimpan keinginan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Membantu anak-anak di daerah terpencil, terdalam, dan terisolasi untuk mendapatkan pendidikan yang layak sama seperti anak-anak yang berada di pusat perkotaan. Dengan mengucap basmallah, gue memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswi di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA). Alhamdulillah, akhirnya kuliah juga. Akhirnya gue punya jawaban juga untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh banyak orang kepada gue, yakni “Kuliah dimana, Neng?”

September 2014
Meskipun bulan-bulan kemarin gue banyak mengalami kegagalan, gue tetap yakin dibalik kegagalan pasti akan selalu ada hikmah yang tersembunyi dibaliknya. Akhir bulan kemarin gue mengikuti masa-masa orientasi mahasiswa yang diadakan oleh kampus gue. Awal bulan September ini gue udah mulai masuk kuliah perdana. Cieelaaah Bocil akhirnya kuliah juga nih *joget-joget di lapangan depan kampus*. Dunia perkuliahan memang jauh berbeda sekali dengan dunia persekolahan. Dimana kita sebagai mahasiswa tak lagi disuapi materi-materi oleh pengajar kita. Mahasiswa dituntut lebih untuk mencari dan memahami materi-materi kuliah sesuai dengan yang kita butuhkan.

            Ngomong-ngomong masalah kuliah, di pertengahan bulan ini kakak gue telah berhasil menyelesaikan perkuliahannya. Meskipun sempat dipusingkan oleh tugas akhir, doi tetap bersemangat agar bisa lulus tepat waktu. Alhamdulillah, akhirnya kakak gue diwisuda disini. Bangga banget rasanya liat doi bisa lulus dengan IPK yang bagus. Pas gue mau foto pake toga milik kakak gue, tiba-tiba doi langsung nyeletuk,

“Kalo belum lulus sidang dan nyelesain skripsi nggak boleh  pake toga. Pamali tau. Nanti lulusnya bakalan lama loh.”

Kampret, kakak macem apaan dah lo, bukan doain adiknya biar cepat lulus eh malah doain yang kayak gitu. Akhir bulan ini ditutup dengan surprise kecil-kecilan untuk merayakan ultahnya Kak Kay, salah satu sesepuh tertua yang ada di JB Jabodetabek. Padahal udah ngumpet-ngumpet pas mau ke rumahnya, eh akhirnya ketauan juga sama yang lagi ultah wkwkwk. Lol moment banget deh pokoknya disini.

Oktober 2014
Di pertengahan bulan ini gue diharuskan mengikuti ospek tambahan yang diadakan oleh kampus gue, yakni ODDI (Orientasi Dasar-Dasar Islam). Dimana ODDI ini diadakan selama 3 hari. Orientasi ini juga mewajibkan kita untuk menginap di asrama kampus selama 2 hari 1 malam. Kampus ternyata terasa lebih mencekam ya suasananya kalau udah malam. Belum lagi ada teman gue yang indigo gitu. Sebel deh ih disaat kayak gini dia malah bikin orang lain jadi pada parno-_-

November 2014
Bulan ini merupakan transisi terpenting sepanjang hidup gue. Dimana gue yang sejatinya adalah seorang anak rumahan akan berubah statusnya menjadi anak kostan. Cieee Bocil akhirnya jadi anak kostan juga nih wkwkwk. Menurut gue kalau kuliah nggak pernah ngerasain jadi anak kostan itu rasanya kurang greget gimana gitu. Jadi anak kost ternyata nggak seindah yang gue bayangkan. Biasanya pagi-pagi bangun udah ada sarapan, eh sekarang tiap pagi mesti ke warung dulu buat beli sayuran dan segala macamnya. Biasanya sebelum ngampus masih bisa nyantai, sekarang mesti masak dan bersih-bersih. Ditambah lagi setelah balik kuliah gue mesti nyuci baju dulu. Tapi, ini sama sekali nggak menjadi beban buat gue. Malah menjadi sebuah tantangan yang seru.

            Banyak banget horror moment yang terjadi selama gue jadi anak kostan. Waktu itu pas lagi makan malam sama teman-teman kostan gue, tiba-tiba ada yang ngetok pintu belakang. Pintu belakang kostan gue berbahan besi dan ditutupi oleh semacam viber gitu. Ngetoknya nggak hanya sekali, tapi sampai berulang-ulang. Nggak lama ada suara bapak-bapak yang teriak, “Gas. Gas...”

Kami panik bukan main dan langsung bergegas ke dapur soalnya takut gas di dapur bocor. Pas di cek ternyata nggak ada bau gas sama sekali. Lagi asik ngecek kondisi gas, tiba-tiba orang misterius itu makin kencang memukul pintu belakang dengan gembok yang sepertinya dia bawa. Saking paniknya, gue sama teman-teman gue langsung pada ngibrit ke kamar. Kita semua pada ketakutan. Masalahnya kita nggak pernah merasa memesan gas sama sekali selama kita ngekost. Ya Allah mimpi apa coba gue semalam, tiba-tiba di ada yang ngetok-ngetok pas udah malam dan lagi hujan deras kayak gini. Teman gue yang tadinya pada pake tanktop langsung bergegas pake mukena semua. Bukan, kita bukan pengen sholat jamaah. Kita cuma takut diapa-apain sama orang misterius itu.

Nggak lama kemudian, ada yang ngetok-ngetok lagi di pintu depan. Suara ketokannya makin kencang. Gue dan teman-teman gue makin pada panik. Kami pun membaca doa bersama-sama. Setelah dibacakan doa, bukannya berhenti eh malah pindah suara ketokannya. Kali ini orang misterius itu ngetok jendela kamar gue. Anjrit, makin panik lah kita semua. Nggak ada satu pun dari kami yang berani keluar apalagi untuk buka pintu. Kita saling tunjuk menunjuk untuk membuka pintu.

 “Lo ke depan gih, Mas, buka pintunya.” kata Ica.

“Nggak, ah, gue takut pas pintunya dibuka nanti orang misterius itu langsung ngebius gue dan menyekap gue. Kalau nanti gue diapa-apain gimana? Udah, lo aja, Dil, yang buka pintunya.” kata gue sambil menunjuk Dilla.

“Gue juga takut bege! Udah lo aja, Is, yang buka.” kata Dilla pada Iis.

“Gue juga takut peleh! Ayolah kita rame-rame buka pintunya daripada ketakutan di kamar kayak gini.” balas Iis.

Nggak lama, Ica membisikkan sesuatu sama gue…

“Mas, lo waktu itu bawa gunting kan? Guntingan kuku juga bawa kan?” tanya Ica.

“Bawa. Emangnya buat apaan?” balas gue.

“Udah ambil buruan. Nanti kalo pas dibuka pintunya penjahatnya nyerang, kita bisa tusuk pake gunting aja perutnya biar mereka nggak jadi zombie.” balas Ica.

“Mereka orang bukan zombie keleushhh! Kebanyakan nonton film zombie sih, lo! Jadi kebawa-bawa ke dunia nyata kan jadinya.” lanjut gue

“Ya kali aja mereka nggak akan nyerang kita kalo perutnya ditusuk pake gunting.” balas Ica sambil cengengesan.

“---___________---”

            Akhirnya kita memberanikan diri dan memutuskan bareng-bareng ke ruang tamu buat buka pintu depan. Dilla membaca doa dulu sebelum membuka kunci. Lalu membukanya secara perlahan…

“Ada apa ya, Pak?” tanya Dilla.

“Anu, Neng… Neng mesen gas nggak?”  balas si Bapak Misterius.

“Nggak, Pak.” sambung Dilla.

“Oalah tak kirain kostan yang ini yang tadi mesen gas. Yaudah maaf ya, Neng, jadi ganggu malam-malam gini.” lanjut si Bapak sambil kembali menyalakan motornya.

“ -___________- “

Kampret! Dasar bisul gajah, upil jerapah, pantat penggorengan tuh si Bapak. Bikin panik dan parnoan aja malam-malam gini. Seminggu kemudian, saat semuanya lagi pada kumpul di kamar gue. Biasalah lagi pada dengerin lagu, nyanyi bareng-bareng dan curhat masalah pacar-pacar mereka. Eh, tiba-tiba mati lampu. Anjrit, bikin kaget aja. Kayaknya pulsa listriknya udah waktunya buat diisi. Duh, mana udah malam lagi. Alfamart disini nggak ada yang 24jam. Nggak mungkin lah kita gelap-gelapan sampai besok pagi. Mana udaranya panas pula. Akhirnya Dilla memberanikan diri pergi ke kamarnya untuk mengambil senter. Dilla pun berinisiatif menelpon Ibunya untuk meminta tolong membelikan token listrik. Dan akhirnya listriknya pun menyala kembali. Alhamdulillah…..

Desember 2014
Bulan ini gue kembali jadi anak rumahan. Gue kembali pulang pergi dengan menggunakan roket angkutan umum seperti biasanya. Bekasi-Pasar Rebo lumayan jauh sih, tapi kasian nyokap gue nggak ada yang bantuin jualan di rumah. Akhirnya gue memutuskan untuk berhenti ngekost sementara waktu.

Bulan ini gue mulai disibukkan dengan banyak kegiatan di kampus. Mulai dari bikin film tentang kebudayaan musik Jakarta di Situ Babakan, LKTD HIMA PGSD di Puncak, sampai dengan Orientasi Kegiatan Kepramukaan di Karawang. Sibuk banget ya? Emang iya. Dibalik kesibukan seseorang, ada suatu hal yang sedang berusaha untuk dilupakan. Yap, benar banget. Gue harus ngelupain seseorang yang waktu itu bikin gue stop-motion karena dia ternyata php-in gue. Di sisi lain, gue juga berhenti menjadi pengagum rahasianya Abang Cilok. Di awal bulan Desember kemarin, gue sempat nge-stalking friendster-nya si Abang Cilok. Ternyata, dia baru saja jadian sama si Teteh Penjual Getuk. Duh, pupuslah hati Neng. Salah Neng juga sih ya, udah tau suka sama si Abang Cilok, tapi nggak pernah dinyatain. Eh, sekarang keduluan sama si Teteh Penjual Getuk. Tapi, nggak apa-apalah. Gue ikhlas kok melihat Abang Cilok bahagia sama si Teteh Penjual Getuk :))

Terima kasih 2014. Tahun ini benar-benar mengajarkan gue banyak hal. Mulai dari gagal kuliah di PTN, ketemu sama orang-orang hebat, dapat surprise dari remaja karang taruna, dapat kado dari mantan, jadi pengagum rahasianya Abang Cilok, sampai merasakan sakit hati karena di php-in sama Mas pembuat stop-motion. Gue percaya di setiap kegagalan, pasti akan selalu ada kesuksesan yang tertunda dibaliknya. Sekian rangkuman perjalan hidup Bocil selama tahun 2014.

“Ketika kamu sangat-sangat menyukai seseorang. Ketika ada seseorang yang mengasihi dan mencintainya, maka kamu akan benar-benar dari hati yang paling dalam mendoakannya dia agar bahagia selamanya.”-Ko Chin Teng

You May Also Like

16 komentar

  1. banyak orang hebat yang lahir bukan dari universitas negeri :)
    tenang lah imas gak ada abang cilok
    abang cimol pun masih menunggumu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha tetep enakan sendiri kok :))

      Hapus
  2. emang bener tuh, pamali buat yang masih kuliah tapi foto pake toga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha itu bukannya cuma mitos ya?

      Hapus
  3. Selalu ada cerita di setiap tahunnya :)

    BalasHapus
  4. tahun yang menarik sepertinya ya kakak, semoga tahun ini lebih menarik lagi.

    BalasHapus
  5. Quote terakhirnya. You're The Apple in My Eyes kan? :))
    Gue bacanya terhanyut gini. Semangat Bu Guru. PTN/PTS tergantung individunya kok. :D
    Yah... tukang ciloknya udah laku. Cari lagi, masih ada tukang bajigur, tukang ager, tukang gulali genjot, de el el.
    Kunjungan perdana. Salam kenal, Imas. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, bener banget. Btw, thanks ya, Bro \:D/
      Hahaha sa ae lo. Wokee sama kenal juga ya, Yoga...

      Hapus
    2. Sama-sama. :)
      Gue kenal sama mbak getuk dan tukang ciloknya. :p
      Kalo abis kenalan boleh minta nomor telepon nggak? Eh, gimana?

      Hapus
  6. Cerita setaun dalam satu postigan. Good~~~

    Selamat jd anak kuliahan. Nikmatilah, neng~~~ Ahaha... semua indah pada waktunya kok.

    Yaelah gak ada tukang cilok, abang-abang odong2 juga jadih ya, neng. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiii, selamat terjun di dunia yang sesungguhnya ya... Semoga cepet dapet kerjaan yang sesuai \:D/

      Hapus
  7. selamat menempuh hidup baru cil, jadi anak kuliah itu kan hidup yang baru bukan si?

    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kehidupan baru di dunia perkampusan, Kak hehehe...
      Selamat menempuh jodoh yang baru juga ya *eh

      Hapus
  8. Itu kejadian setahun diinget semua. ada yang detail pula. kamampuan itu akan sangat berguna kalo jadi malaikat. jadi gak perlu nyatet-nyatet lagi. Oh iya, salamin Mas buat teteh penjual getuk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi malaikat penjaga hatimu aja gimana? *eh
      Duh, sayangnya aku nggak punya nomernya si Teteh, salamin buat kang ojek depan gang aja ya? Hahaha

      Hapus

Tak komentar maka tak sayang. Tak sayang maka tak jadian~