PKL KE MALANG BALI JOGJA

by - 23.47


Hi, Assalamualaikum! Ini adalah postingan pertama gue di tahun 2018. Loh, ini kan udah bulan Maret? Kok baru mulai nulis lagi sih, Cil? Hmm, parah emang. Ntah kenapa kebiasaan menulis gue makin kesini makin menghilang. Ibaratnya dulu lo selalu ngelakuin kegiatan favorit lo sama dia, tapi karena dianya sibuk mulu maka kebiasaan favorit lo itu makin lama makin jarang dilakuin. Sama halnya kayak gue. Sejak SMP, menulis adalah salah satu hal favorit yang selalu gue tekunin. Makin kesini gue disibukkan dengan berbagai macam kegiatan di kampus, maka kebiasaan ini pun perlahan menghilang. Oke, gue harus bangun kembali kebiasaan menulis gue. Sebab, di semester akhir yang akan gue hadapi nanti juga mengharuskan gue untuk kembali menulis. Menulis skrispi lebih tepatnya.

Sebelum memasuki dunia per-skripswit-an, gue mau menyeritakan pengalaman gue saat mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan Studi Pengembangan Wawasan yang diadain sama prodi gue ketiga kota, yakni Malang, Bali, dan Yogyakarta. PKL di prodi gue ini semacam KKN, tetapi dibungkus ala studytour gitu. PKL ini merupakan salah satu mata kuliah wajib yang gue harus ikuti sebelum menggarap skripsi nanti. Untuk lebih jelasnya bakal gue ceritain di bawah ini. Simak yaaw:3

PKL ini bakalan berlangsung selama 9 hari dari 4-12 Februari 2018. Gue berangkat dari kampus menggunakan Jet Bus. Semacam bis yang memiliki bunyi “Om, telolet, Om...”. Bis yang disediakan kampus sebanyak 12. Banyak memang. Karena satu angkatan PGSD kali ini ada 12 kelas. Btw, gilaaa itu ke Bali naik bis? Nggak capek emang, Cil? Wkwk kalo itu mah nggak usah ditanya. Terakhir gue pergi jauh pake bis itu pas balik dari Yogyakarta, rumahnya nenek dari nyokap. Itu pun terpaksa naik bis karena kehabisan tiket kereta.

Kota yang pertama didatangi yakni kota Malang. Lebih tepatnya kota Batu. Di sini kami akan mengunjungi sekolah-sekolah dasar yang berada di daerah Batu. Kebetulan kelas gue dapet kesempatan buat mengunjungi SDN Punten 01 Batu. Eh, kok namanya SD Punten? SD Permisi dong, Cil? Wkwk bukaaan. Gue sendiri juga nggak tahu kenapa namanyanya “Punten”. SD ini merupakan SD paling keren dari semua SD yang pernah gue datangi. Program yang dibuat kepsek sama guru-gurunya ciamik abis. Lingkungan sekolah dibuat senyaman mungkin, bangunan gedung juga seperti rumah bukan seperti sekolah pada umumnya. Ruang kelas pun nggak kayak ruang kelas pada umumnya. Guru kelas dan siswa diberi kebebasan untuk mendekor kelas sekreatif mungkin. Tujuannya sih simpel. Biar guru dan siswa nggak monoton pas belajar. Setiap minggunya selalu ada pembelajaran di luar kelas. Misal tema kali ini bercocok tanam, nah siswa bakal diajak ke luar kelas untuk mempraktekannya. Dan biasanya di akhir bulan, siswa bakal diajak dateng ke perkebunannya langsung. Prinsip sekolah ini yakni "Biar sekolah neng ndeso, tapi prestasi kuto". Artinya biarpun sekolah ini ada di desa tapi prestasi sudah tingkat kota.

Lingkungan sekolah

Ruang kelas
Suasana bercocok tanam
Prestasi SDN Punten 01
Lanjut dari SD, kita langsung cus ke Museum Angkut. Katanya sih, ini salah satu tempat yang wajib dikunjungin kalo kalian ke Malang. Isinya apa aja tuh, Cil? Isinya berbagai macam alat transportasi dong. Mulai dari yang menggunakan bahan bakar hingga yang menggunakan tenaga manusia. Kendaraannya pun nggak hanya dari Indonesia, loh! Tapi, dari semua belahan dunia. Untuk harga tiketnya dikenakan 100rb. Oh, iya, mau ngasih tau juga kalo kalian kesini bawa kamera itu bakal dikenain charge sebesar 30rb/kamera. Berlaku untuk semua jenis kamera, kecuali kamera HP. Biar pun rada mahal, tapi kebayar kok sama banyaknya spot foto yang keren-keren dan pastinya instagram-able abis!
Buckingham Palace (take by me)

Hari terakhir di Malang, ditutup dengan kunjungan ke Universitas Negeri Malang (UM). Di sini gue mengikuti seminar-seminar gitu. Habis itu kita langsung cus ke Pelabuhan Ketapang. Kalo gue liat di maps jarak Malang ke Banyuwangi ditempuh sekitar 5 jam. Nyatanya memakan waktu 10 jam. Jauh gilaaaak. Udah gitu jalannya ajluk-ajlukan pula. Berasa banget kayak naik roller coaster. Anyway, wajar sih, soalnya kita sempet ISHOMA sekalian bersih-bersih dulu.
Seminar di UM (take by me)
Dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk sendiri hanya memakan waktu 90 menit. Beda abis ye kan sama perjalanan sebelumnya wkwk. Kita sampe jam 1 malem. Habis itu bus langsung meluncur ke tempat istirahat. Kirain mah deket, ternyata memakan waktu 3 jam.  Untung aja nggak berasa soalnya gue pake buat tidur hehehe. Sampe di tempat istirahat, kita bebersih sekaligus sarapan dan jam 7 langsung jalan lagi menuju Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA). And you know, guys? Itu kampus adanya di atas gunung gitu. Jalan buat kesananya sih emang udah pada di aspal, tapi kiri kanannya itu loh jurang semuaaa. Serem abis!

Di UNDIKSHA kita mengikuti seminar lagi. Niatnya, sih, gue mau mampir ke lembaga himpunan mahasiswa jurusannya dulu. Tapi, karena waktunya mepet jadi nggak sempet mampir deh huhuhu. Makan siang pun dilakukan di bis dengan suasana jalan yang ekstrim. Ya, kami harus melewati jalanan itu lagi. Jalanan yang kanan kirinya jurang. Pas lagi di tanjakan, bis yang di depan bis kelas gue sempet ngerem mendadak. Berimbaslah ke bis-bis yang ada di belakangnya. Temen gue ada yang panik dan mau nangis. Gue sendiri langsung merapalkan doa-doa agar senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah SWT.
Seminar di UNDIKSHA (take by me)

And yeaaaay! Akhirnya sampe juga di Pantai Jimbaran. Pantai ini terkenal dengan pemandangan sunsetnya yang indah. Tapi, sayang sungguh sayang. Ekspetasi gue berbanding jauh dengan realita yang ada. Pantainya penuh sampah pemirsaaah :( dibilang kecewa sih udah pasti. Tapi, nggak apa-apalah. Toh, dari pantai ini gue masih diberi kesempatan untuk melihat sang mentari yang terbenam di ujung laut sana. Oh, iya, harga tiket untuk masuk kesini itu sekitar 100rb kalo nggak salah. Tapi, kayaknya sih belum termasuk makan. Dan menurut gue seafood disini biasa aja. Bumbunya kurang nampol. Malah ebih enak seafood yang ada di pinggiran kota Jakarta wkwk. Balik dari sini langsung cus ke hotel.
Sunset di Jimbaran (take by me)
Besoknya kita menuju Bali Culture Centre. BCC ini biasa disebut Bali Mini. Di dalamnya terdapat banyak budaya-budaya Bali yang bisa kita pelajari. Seperti menumbuk padi dengan Luwu dan Lesung, pengolahan minyak kelapa yang dilakukan dengan alat-alat tradisional. Juga dipertontonkan pula bagaimana pembuatan ogoh-ogoh untuk upacara Nyepi, juga dipertontonkan Wayang Lemah. Dari sini kita lanjut ke Pura Uluwatu. Di sini kita akan menyaksikan pertunjukan Tari Kecak. Harga tiketnya sekitar 100rb/orang. Tempat ini termasuk tempat yang sakral. Untuk para pengunjung yang memakai celana/busana yang pendek biasanya akan dipinjamkan kain. Kain ini diikatkan di pinggang. Gunanya untuk menutup aurat lah lebih tepatnya. Sepanjang perjalanan dari parkiran menuju pura, kita bakal disambut sama para monkey. Monyet-monyet di sini terkenal dengan sifat usilnya yang suka mencomot barang-barang yang dibawa oleh para pengunjung. Makanya hati-hati, Guys!
Foto bersama di BCC
Sesampainya disana, ternyata tempat duduk sudah dipenuhi oleh ratusan wisatawan baik lokal maupun macanegara. Gue sendiri kebagian duduk di paling bawah dan paling depan. Jadi bisa liat dari deket gimana sakralnya Tari Kecak ini. Sayang sungguh sayang, di tengah pertunjukan mendadak hujan deres. Awalnya sih nggak mau neduh. Tapi, karena anginnya kencang dan hujannya deres parah, mau nggak mau harus neduh. Setelah agak redaan dengan kondisi baju yang lepek, gue kembali menyaksikan pertunjungan tersebut hingga selesai. Totalitas para penarinya nggak perlu diragukan lagi, meskipun basah kuyup, mereka tetap melanjutkan pertunjukan hingga usai.
Tari Kecak (take by my friend)
Menjelang magrib kita langsung menuju ke hotel. Seketika di bis dipenuhi oleh jemuran baju-baju basah wkwk. Saking lepeknya, gue sendiri sampe make selimut yang ada di bangku bis untuk gue jadiin kerudungan wkwk. Keesokan harinya kita cus ke Tanah Lot. Disini juga terdapat Pura yang digunakan untuk sembahyang umat Hindu. Cuacanya alhamdulillah lain dari kemarin. Panas dan silau abis wkwk. Spot foto di sini cukup terbatas karena beberapa pura sedang dalam kondisi pemugaran. Ombak di sini lumayan besar sehingga beberapa pengunjung yang melewati batas aman selalu di priwiti peluit oleh para penjaga disana. Enaknya disini itu bisa beli oleh-oleh murah. Tau gitu kemarin pas di Khrisna gue nggak khilaf deh huhuhu. Bayangin aja tas rotan kekinian yang di olshop sekitaran 300rb, disini cuma 160rb cuy. Sayang banget gue kesini nggak bawa uang banyak. Tapi, di tempat ini gue akhirnya mendapatkan kain nirmana ala-ala tumblr gitu.
Foto bersama di Tanah Lot
Setelah itu kita langsung otw ke Joger. Gue disana nggak beli apa-apa karena uang gue udah limit abis wkwk. Gue nggak mau belanja apa-apa lagi karena perjalanan gue masih jauh lagi. Dari Joger kita langsung cus ke Pelabuhan Gilimanuk dan siap-siap balik lagi ke Pulau Jawa. Terus mau kemana? Ke Bromo *ala-ala iklan tiket.com*. Niat mau liat sunrise di puncak Gunung Bromo pun sirna karena di jalan kita sempet kena macet. Kita baru sampe di Bromo Asri sekitar jam 4 pagi. Gue pikir perjalanan dari parkiran ke Gunung Bromonya deket. Ternyata eh ternyata jauh juga. Dari parkiran bis, gue naik mobil elf yang berisi 17 orang per mobilnya. Terus dari puncak utama dilanjut naik jeep menuju Lautan Pasir Berbisik. Kayaknya gue nggak cocok jadi anak gunung deh. Gue nggak bisa bayangin gimana rasanya kesana bawa carrier berat terus kudu jalan beribu kilometer wkwk. Meskipun capek, tapi gue seneng banget akhirnya bisa kesini juga.
Foto bersama PGSD Kelas D
And the last, kota Yogyakarta menjadi kota terakhir yang kita kunjungi. Setelah 10 tahun lamanya, akhirnya gue kembali mengunjungi Candi Borobudur. Candi ini mengalami perubahan yang sangat signifikan. Ya iyalaah, Cil. Lo aja terakhir kesini tahun 2008 -_- Awalnya sih gue mager naik sampe atas. Berhubung tahun ini gue sedang menjalani program perbanyak jalan kaki, akhirnya gue berhasil sampe di puncaaak. Di sini udaranya cukup banyak dan pengunjungnya juga lumayan rame. Jadi ya gitu, tiap mau foto eh nggak lama ada orang yang mau lewat wkwk. Selanjutnya kita mengunjungi kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Disana kita mengikuti seminar lagi. Dan ditutup dengan jalan-jalan ke Malioboro serta menonton pertunjukan Tari Ramayana di Purawisata.
Foto bersama HIMA PGSD

Dari semua kota yang  gue kunjungi, kota Yogya tetaplah menjadi kota favorit buat gue. Karena di setiap sudutnya terdapat kenangan dan setiap sisinya memiliki keromantisan. Ku titipkan rindu di kota ini. Rindu yang tak seperti biasanya. Rindu yang nantinya akan membawaku pulang kembali ke kota ini.
Foto bersama terakhir di Borobudur

You May Also Like

2 komentar

  1. *zoom zoom zomm di poto terakhir... imungnya yang mana yak... oh itu...

    Ini PKL kok istimewa banget dari sudut pandang mahasiswa sini. kalo di sini, pkl baling banter ya ke desa-desa aja. terpencil. jalanan lumpur, yang abis lewatin jalannya langsung jaid PNS. :( kegiatannya juga paling banter bikin penanda jalan, plang dan sekali ngadain seminar/tontonan. ini kamu malah kayak darmawisataan... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari sudut pandang mahasiswa kampusku juga terbilang mewah diantara prodi lainnya. Prodi lain ada KKN, tapi prodiku adanya PKL. Malah lebih seru KKN loh. Beneran berasa pas turun ke masyarakat langsung. PKL di prodiku emang lebih mirip kayak studytour wkwk..

      Hapus

Tak komentar maka tak sayang. Tak sayang maka tak jadian~